Mar 2, 2014

“Boneka & Kredit”


Assalamu’alaikum Wr.Wb

Buya , saya seorang ibu rumah tangga, putri saya ( usia 7 tahun ) suka sekali mengoleksi boneka, tapi kata temen saya suka sama boneka itu tidak boleh karena nanti di Akherat akan dituntut nyawa boneka tersebut, seperi halnya patung. Benarkah hal tersebut ? Mohon penjelasn tentang hal ini, bagaimana hukumnya mengoleksi boneka ?

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

NIA ( IRT ) _CIPTO CIREBON
085295225XXX

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Saudariku Nia yang selalu dalam Rahmat Allah Swt, terima kasih atas pertanyaannya.

Sudah menjadi kesepakan atau Ijma Ulama seperti apa yang difatwakan oleh Imam Nawawi dan Ibnul Arabi bahwasanya “dilarang mengambil gambar yang berbentuk seperti boneka”. Tetapi dalam hal ini ada ISTISNA ( Pengecualian ), seperti mainan anak-anak karena ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menunjukkan diperkenankannya hal ini. Dalam hal ini Imam Nawawi mengomentari

"Persoalan ini sudah menjadi kesepakatan ulama bahwa haram membuat gambar yang berbentuk, akan tetapi hadits ini dikecualikan oleh hadits lainnya yang menerangkan di perbolehkannya mainan anak-anak dari suatu gambar yang berbentuk (boneka) dan itu tidak terbatas pada anak-anak putri tetapi anak-anak putra juga diperkenankan".

Jadi kesimpulannya hal itu ( suka dengan boneka ) boleh-boleh saja untuk mainan anak-anak, baik itu dengan membelikannya atau membuatnya sendiri. Adapun mengenai persolan wara’( kemuliaan ) itu adalah persoalan akhlak akan tetapi jangan memaksakan orang lain tentang sesuatu yang masih diperkenankan ,lalu kita paksa orang lain untuk meninggalkanya sehingga beragama akan dirasakan berat. Karena sesungguhnya Islam itu YUSRUN ( mudah ).

Wallahu ‘alam bish showab. 


Sumber Artikel ;

Feb 27, 2014

SHOLAT DI KENDARAAN



Assalamualaikum Wr. Wb
Buya, di saat orang-orang Mudik tak jarang orang hanya bisa melakukan Sholat di atas kendaraannya, mohon penjelasan sholat di atas kendaraan dan bagaimana kalo kita sholat di atas kendaraan yang ada najisnya ?




Wa’alaikumsalam Wr. Wb

Shalat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim dalam keadaan apapun asalkan akalnya masih sehat. Karena begitu pentingnya sholat, Islam amat memudahkan cara sholat. Jika tidak bisa berdiri boleh duduk jika tidak bisa maka dengan berbaring kemudian terlentang hingga dengan isyarat dengan pelupuk mata dan dengan hatinya. Begitu juga dalam bepergian bisa dilakukan di atas kendaraan. jika dilakukan di atas kendaraan jika mungkin berwudhu’ dan dengan baju yang suci dan menghadap Qiblat maka harus bersuci dan menghadap Qiblat, jika tidak mungkin (karena kendaraan bukan kita yang mengendalikan) maka langsung saja Sholat tanpa Wudhu’ dan dengan baju najis tanpa menghadap Qiblat sekalipun dan nanti wajib diulang setelah sampai di tempat tujuan. Intinya Sholat tetap harus dilakukan agar kita tidak dosa biarpun harus mengulang lagi. Sebab dosa meninggalkan sholat amatlah besar.
Wallahu a'lam bissawab

Buat Kaum Muslimin Warga Cirebon & Sekitarnya

Assalamu'alaikum.
Buat Kaum Muslimin Warga Cirebon & Sekitarnya...
Jangan Lupa MALAM INI...!!!
Saksikan Siaran Pengajian Buya Yahya, di 2 stasiun Televisi :
1. Radar Cirebon TV (RCTV)
" Membuka Mata Hati " Pkl. 19.00 WIB
2. Cirebon TV
" Hidup Indah bersama Buya Yahya " Pkl. 20.30 WIB

TIM Dakwah Al-Bahjah




Sumber Artikel ;
https://www.facebook.com/buyayahya.albahjah

Feb 26, 2014

Shalat Istisqa’

A.    Pengertian

Shalat Istisqa’ adalah Shalat yang dianjurkan ketika lama tidak turun hujan atau ketika sumber mata air sudah lama mengering, Shalat Istisqa’ disunnahkan berdasarkan sebab dzahirnya, dan tidak dianjurkan lagi ketika sebab-sebabnya sudah tiada seperti mulai turun hujan atau mengalirnya mata air dari sumbernya.
B.    Cara Pelaksanaan
Ada 3 cara dalam melaksanakan Istisqa’ yang dianjurkan dalam Islam :
1.    Berdo’a agar diturunkan hujan di setiap saat
2.    Berdo’a di waktu I’tidal rakaat terakhir pada setiap Shalat Fardhu dan setiap setelah Shalat
3.    Paling sempurnanya adalah dengan melaksanakan cara berikut ini :
a.  Imam (pemimipin/pemerintah) atau yang mewakili Imam seperti Ulama memerintahkan masyarakat dengan :
i.   Bertaubat dengan sebenar-benar taubat
ii.  Bersedekah kepada fakir-miskin, keluar dari kedzaliman, mendamaikan orang yang bertikai
iii. Puasa 4 hari berturut-turut

b.  Imam keluar dengan masyarakat pada hari ke-4 puasa dengan memakai baju yang sederhana (yang dianjurkan adalah memakai baju compang-camping) dan penuh kekhusyuan dan penuh ketenangan di satu lapangan, kemudian Imam atau wakilnya melakukan Shalat 2 rakaat berjama’ah bersama masyarakatnya seperti dalam pelaksanaan Shalat Hari Raya.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَاضِعاً مُتَبَذِّلاً مُتَخَشِّعاً مُتَرَّسِلاً مُتَضَرِّعاً فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّيْ فِى الْعِيْدِ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهَ (1266) وَغَيْرُهُ
Dari Sayyidina Ibnu Abbas ra, beliau berkata: “Rasulullah SAW keluar dengan penuh tawadhdhu’ (merendahkan diri), compang-camping, penuh kekhusyuan, tidak tergesa-gesa dan memohon dengan penuh kesungguhan, kemudian beliau melakukan Shalat 2 rakaat seperti Shalat di hari raya.” HR. Imam Ibnu Majah no. 1266 dll
c.    Setelah mereka melakukan Shalat kemudian Imam berkhutbah 2 kali seperti khutbah hari raya, hanya saja dalam khutbah ini membaca Istighfar 7 kali pada khutbah yang pertama dan membaca Istighfar  5 kali pada khutbah yang ke-2 sebagai ganti dari pembacaan Takbir dalam Khutbah harai raya.
Berdasarkan firman Allah SWT :
{ اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً { [ نوح:10,11]
“Mintalah ampun kalian kepada tuhan kalian, sesungguhnya Dia maha pengampun, Dia-lah yang menurunkan hujan dari langit untuk kalian dengan begitu derasnya.” QS. Nuh : 10-11
Ketika Khotib memulia Khutbah yang ke-2 dan telah berlalu 1/3 dari Kutbahnyasetelah itu Khotib menghadap Kiblat dan membelaking Jama’ah, kemudian Khotib merubah posisi Rida’-nya (Sorban yang diletakkan pada bahu) yaitu dengan meletakkan posisi yang di atas dibalik ke bawah, serta yang kanan dibalik ke kiri dan sebaliknya sebegai tanda pengharapan kepada Allah SWT agar dirubahnya kondisi kemarau menjadi penuh hujan rahmat.
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً يَسْتَسْقِيْ، فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلاَ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ، ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللهَ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعاً يَدَيْهِ، ثُمَّ قَلَّبَ رِدَاءَهُ: فَجَعَلَ اْلأَيْمَنَ عَلَى اْلأَيْسَرِ وَاْلأَيْسَرِ عَلَى اْلأَيْمَنِ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهَ (1268)

Dari Sayyidina Abu Hurairah ra, beliau berkata : “Rasulullah SAW keluar pada hari beliau meminta hujan, kemudian Rasulullah Shalat bersama kami tanpa Adzan dan Iqomah, beliau berkhutbah dan berdo’a kepada Allah dan menghdapkan wajahnya ke kiblat serta mengangkat ke-2 tangannya, kemudian beliau membalikkan sorbannya yaitu dengan meletakkan yang kanan di kiri dan yang kiri di kanan.” HR. Imam Ibnu Majah no. 1268
Bagi jama’ah yang ikut serta dalam pelaksanaan Shalat Istisqa’ disunnahkan juga untuk melakukan hal demikian tersebut di atas.
Disunnahkan bagi Khotib untuk memperbanyak Istighfar, do’a, taubat dan permohonan yang sungguh-sungguh serta bertawassul dengan orang-orang yang Sholeh dan bertakwa.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اِسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلَّبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا. قَالَ: فَيُسْقَوْنَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ (964)

Dari Anas ra, “Sesungguhnya Sayyidina Umar Bin Al-Khattab ra ketika paceklik tiba beliau meminta hujan dengan perantara (Tawassul) Sayyidina Abbas Bin Abdul Muthollib ra dengan berdo’a :
اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا
“Ya Allah sungguh kami bertawassul kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu maka turunkanlah hujan untuk kami, dan sungguh kami juga bertawassul kepada-Mu dengan perantara paman Nabi-Mu maka turunkanlah hujan untuk kami.”

Kemudian Sayyidina Anas berkata : “Maka diturunkanlah hujan bagi mereka.” HR. Imam Al-Bukhari no. 964
d.    Disunnahkan bagi mereka yang menghadiri pelaksanaan Shalat Istisqa’ membawa anak kecil, orang tua dan banatang ternak, sebab musibah (paceklik) tersebut mengenai mereka semua dan tidak diperkenankan melarang Ahli Dzimmah (non muslim yang diberi izin tinggal bersama kaum muslimin) untuk ikut serta hadir dalam prosesi tersebut.
C.    Do’a-Do’a Yang Diajarkan Oleh Rasulullah SAW
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْياَ رَحْمَةٍ، وَلاَ تَجْعَلْهَا سُقْياَ عَذَابٍ، وَلاَ مَحْقٍ وَلاَ بَلاَءٍ، وَلاَ هَدْمٍ وَلاَ غَرْقٍ. اَللَّهُمَّ عَلَى الظُّرَّابِ وَاْلآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ، اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثاً مُغِيْثاً، هَنِيْئاً مَرِيْئاً مُرِيْعاً، سَحاً عَاماً غَدْقاً طَبَقاً مُجَلَّلاً، دَائِماً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ مِنْ الْجُهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ، مَا لاَ نَشْكُوْ إِلاَّ إِلَيْكَ.اَللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ اْلأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّاراً، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَاراً.
( رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ :967؛ وَمُسْلِمٌ : 897؛ وَأَبُوْ دَاوُدَ 1169؛ وَالشَّافِعِيُّ:" اْلأُمُّ 1/222" ، وَغَيْرُهُمْ).
“Ya Allah jadikanlah curahan ini sebagai rahmat dan jangan engkau jadikan curahan ini sebagai siksa, bukan kehancuran, bahaya, kerusakan dan bukan pula ketenggelaman bagi kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada bukit-bukit, tumbuh-tumbuhan dan lembah-lembah. Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang berakibat buruk atas kami. Ya Allah turunkanlah hujan yang melepaskan kami dari paceklik, tanpa disertai kesusahan, baik akibatnya, subur dengan kesegaran, deras dan lebat yang menyeluruh pada permukaan bumi terus-menerus (manfaatnya) sampai hari Kiamat. Ya Allah turunkanlah hujan untuk kami dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berputus asa karena hujan yang belum turun. Ya Allah sungguh hamba-hamba-Mu serta negri-negri mereka tertimpa kesulitan, kelaparan dan paceklik yang dahsyat, sungguh tiada kami mengadu melainkan hanya kepada-Mu. Ya Allah tumbuhkanlah kebun-kebun untuk kami dan perbanyaklah susu kambing, turunkanlah barakah dari langit, tumbuhkanlah barakah-barakah bumi, keluarkanlah kami dari bahaya yang tiada seorangpun yang bisa mengeluarkannya melainkan hanya Engkau. Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun, maka turunkanlah hujan dari langit untuk kami.”
HR. Imam Al-Bukhari no. 967, Imam Muslim no. 897, Imam Abu Daud no. 1169 dan Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm juz 1 hal. 222 dll.

Dikeluarkan Oleh : Majelis Al-Bahjah; Pimpinan Buya Yahya
Website : www.buyayahya.org , www.buyayahya.tv , www.radioquonline.com , http://203.29.26.107:8199/listen.pls (Radio Qu 98,5 FM)
FB : Tim Dakwah Al Bahjah Cirebon, Radioqu Cirebon,
FB Page : Buya Yahya, RadioQu 98.5 FM Cirebon
YM : majelis_albahjah@yahoo.co.id , radio_qu@yahoo.com


Sumber Artikel ;
Saturday, 29 September 2012 23:29

Jul 22, 2013

Mutiara Hikmah Buya Yahya Ke 20

Mengingat dosa serta menyesalinya lebih menghidupkan hati dari pada memperbanyak amal kebaikan tanpa merenungi dosa. Alangkah banyaknya orang beribadah dengan sesuatu yang haram tanpa ia sadari. Ia merasa mendapat ridho dari Allah padahal ia di murkahi  oleh Allah.

Sumber Artikel :
Wednesday, 02 January 2013 14:27

Mutiara Hikmah Buya Yahya Ke 19

Jika suatu saat anda berfikir bagaimana meningkatkan ibadah itu adalah kemajuan. Dan setelah itu akan menjadi kemunduran jika anda tidak berfikir bagaimana mengurangi kemaksiatan. Alangkah banyaknya orang tertipu dengan ibadahnya hingga  ia lalai akan segala dosanya.

Sumber Artikel :
Friday, 30 November 2012 20:38 

Mutiara Hikmah Buya Yahya Ke 18

Silaturahmi jasad yang tidak di barengi silaturahmi hati hanya akan tambah merusak hati. Alangkah banyak orang bersilaturahmi jasad dan disaat berpisah justru mendapatkan bahan baru untuk menggunjing, menbenci dan mendengkinya buah dari yang di lihat saat bertemu.

Sumber Artikel :
Thursday, 29 November 2012 07:33